Sabtu, 05 Desember 2009

7 Cara Bikin Harga Mobkas Tinggi

Senin, 2/11/2009 | 15:50 WIB

KOMPAS.com — Tinggi rendahnya harga jual mobil bekas atau mobkas sangat tergantung dua hal, yakni merek dan kondisi. Untuk merek, tertinggi masih dipegang kendaraan buatan Jepang. Soal harga, masing-masing kota atau wilayah punya harga pasaran tersendiri.

Misalnya, mobil—dengan merek, tahun, dan kondisi sama—berdomisili di Jakarta Utara tidak lebih mahal dari yang di Jakarta Selatan. Pasalnya, yang di Jakarta Utara mengandung kadar garam lebih tinggi karena dekat dengan laut. Kemudian, harga mobkas di Jakarta lebih murah ketimbang di Yogyakarta atau Medan (Sumut) karena pedagang di dua daerah terakhir mengambil mobil dari Jakarta.

Selain wilayah, harga mobil juga ditentukan oleh kondisi fisik. Kalau kurang terawat, itu jelas bikin harga mobil jadi rendah. Nah, ada 7 cara yang bisa dilakukan jika Anda menginginkan harga mobkas tinggi.

1. Cat orisinil
Ini yang diperhatikan sebagian calon pembeli sebelum beralih ke mesin dan interior. Lalu, pelat bodi diteliti, pernah tabrakan atau tidak.

Apalagi jika terdapat bekas gores atau baret, maka ini perlu dihilangkan. Beberapa perlengkapan di bodi, seperti lis, logo, atau antena, sebaiknya masih utuh, termasuk komponen lampu.

2. Interior
Warna dasbor, panel pintu, dan jok belum pudar. Kondisinya pun tak ada yang retak atau bolong, khususnya dasbor dan panel pintu. Jika kabin kotor, bau tak sedap, dan lenyapnya beberapa komponen atau tidak berfungsi dengan baik, maka semua ini akan membuat harga mobil jatuh.

3. Pendukung kenyamanan
AC yang dingin menjadi salah satu faktor terpenting bagi calon pembeli. Lalu, kondisi busa dan pelapis jok masih terawat, begitu juga sabuk pengaman diharapkan terpasang dan berfungsi baik.

4. Kondisi mesin
Ada pembeli terkadang lebih mementingkan kondisi mesin bagus ketimbang bodi. Makanya, munculnya lelehan oli mesin atau air radiator, knalpot berasap tebal, dan beberapa komponen sudah tidak asli bisa menjatuhkan harga. Kalau punya bukti perawatan berkala dan perbaikian tertentu, maka hal itu akan menambah nilai mobkas.

5. Bunyi-bunyian
Hal ini bersumber dari mesin, kaki-kaki, dan interior. Bunyi-bunyian muncul karena ada dua komponen saling bergesek atau sudah kering lantaran kurang gemuk.

6. Perlengkapan tambahan
Penambahan aksesori dapat menaikkan harga jual, seperti sistem audio yang sudah up-grade, pakai pelek lebar, penggantian shift knob, setir balap, dan jok semi-bucket racing.

Di sisi lain, ada yang beranggapan, justru penambahan aksesori tidak sesuai selera pembeli sehingga ada biaya tambahan untuk mengembalikan kondisi mobil ke standar. Jika begitu, calon pembeli punya peluang untuk menekan harga. (Ary Damarjati)




Editor: bastian
http://m.kompas.com di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone, atau Windows Mobile Phone Anda

Teknik Memanfaatkan "Engine Brake" Mobil Matik


Sabtu, 21/11/2009 | 05:26 WIB

KOMPAS.com — Kini, mobil-mobil mewah umumnya sudah menggunakan transmisi yang beroperasi secara otomatis. Artinya, pengemudi tak perlu lagi capek menginjak kopling untuk ganti gigi. Pada mobil dengan transmisi manual, untuk pindah gigi, kopling harus ditekan.

Kenyataan lain, dari seluruh sistem kontrol mobil yang harus dioperasikan pengemudi, kopling adalah yang paling banyak menyita tenaga. Di samping itu, tingkat pengoperasiannya juga sangat tinggi, terutama bila jalan macet atau padat merayap!

Cepat habis
Kendati demikian, ternyata masih banyak di antara kita yang masih berasumsi negatif terhadap transmisi otomatik. Hal ini juga diakui oleh produsen mobil. Misalnya, bila mogok, mobil dengan transmisi otomatik tidak bisa didorong. Kalau sering digunakan di daerah pergunungan, rem cepat habis.

Semua itu asumsi masa lalu. Kini, semakin banyak transmisi otomatik, maka produsen menyediakan mekanik yang memiliki kemampuan lebih cepat untuk memperbaikinya bila ada masalah. Malah, kini juga ada bengkel-bengkel umum yang bisa menguras seluruh automatic transmission fluid (ATF) di dalam transmisi dan lantas diisi dengan pelumas yang benar-benar baru dan bersih.

Pada mobil sekarang, khususnya yang menggunakan sistem injeksi, bila baterai soak, maka mesin tidak akan bisa hidup. Pasalnya, komputer mesin mendapatkan energi dari baterai. Karena itu, posisi transmisi manual dan otomatik sama saja!

Lantas, mengenai anggapan bahwa rem boros saat mobil matik melaju di daerah yang banyak turunan, dipastikan, kondisi itu terjadi karena pengemudi terlalu santai, membiarkan transmisi pada posisi “D” saja. Padahal, D adalah gigi tertinggi.

Tetap bekerja
Untuk mengurangi beban kerja rem, pengemudi harus memanfaatkan efek engine brake dengan menggunakan gigi yang lebih rendah. Dalam hal ini, bisa saja “2” atau kalau lebih curam dan licin, harus “L”. Sama dengan gigi rendah, 3 atau 2 pada transmisi manual. Adapun untuk berakselerasi, pengemudi harus melakukan kick down atau menginjak pedal gas dengan cepat!

Jadi, mengemudi dengan transmisi otomatik bukan berarti tangan tidak bekerja sama sekali. Pada kondisi medan tertentu, 3, 2, dan L harus digunakan. Tangan masih harus aktif. Hanya kaki kiri yang benar-benar santai. Tak perlu injak kopling sama sekali. Misalnya saat di jalanan yang menurun atau berakselerasi saat di tanjakan!

Malah, pada kondisi macet, dengan melepaskan pedal rem dan transmisi pada posisi “D”, mobil bisa merangkak tanpa harus menginjak rem.

Kalau sudah merasakan enaknya transmisi otomatik, terutama bagi mereka yang menyetir sendiri, sering melewati jalanan macet, dan punya tingkat mobilitas yang tinggi, mereka dipastikan tak akan mau kembali ke manual kalau tidak terpaksa. Malah, mereka rela mengeluarkan biaya tambahan, baik untuk transmisinya yang lebih mahal plus konsumsi bahan bakar yang sedikit lebih banyak dibandingkan manual!


ZBJ
http://m.kompas.com di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone, atau Windows Mobile Phone Anda